Aku memang pecinta komik, tapi itu bukan berarti aku terlalu bodoh untuk mengharapkan hidupku akan berjalan seperti cerita komik yang selalu begitu simple dan berakhir bahagia. Jika di cerita komik ada tokoh wanita seorang gadis yang tidak populer, maka di sini akulah sang gadis yang tidak populer. Lalu di komik itu juga akan muncul tokoh pria seorang pemuda tampan yang paling populer di seantero sekolah yang sama dengan si gadis itu. Jadi itulah peran teman sekelasku, Raditya, yang akrab disapa Radit, yang super keren dan jadi idola kaum hawa di sekolahku.
Bedanya, di cerita komik itu, mereka berdua akhirnya bersatu. Nah, aku sendiri tidak pernah mengharapkan hal itu. Percayalah, hidupku bukanlah cerita komik.
“Aku pulang dulu, ya,” aku pamit pada Radit dan beberapa temanku yang masih berkerumun di meja Radit, tepat di belakangku, meski kelas sudah nyaris kosong karena bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu.
“Oke,” sahut mereka cuek, bahkan Radit sama sekali tidak menjawab atau mendongak.
Jadi, begitulah nasibku.
Tapi, keberuntungan tidak selalu tidak berpihak padaku, karena seperti di komik-komik yang biasanya kubaca, selalu ada sahabat baik yang menemani si gadis yang tidak populer itu. Perkenalkan, namanya Aya.
“Lin, kamu bisa langsung ke rumahku, nggak?” tanyanya ketika kami berjalan bersisian di koridor itu.
“Memangnya kenapa, Ay?” aku merapikan buku-buku di tanganku agar lebih nyaman untuk kubawa.
“Ada tugas yang harus dikumpulin besok. Mendadak banget, Lin. Kayaknya kalo cuma otakku sendiri yang kerja nggak bisa selesai, deh,” urainya dengan nada putus asa.
Mau tak mau aku tertawa juga melihat ekspresi memelasnya itu. Kami sudah bersahabat sejak di pertama masuk SMP hingga di kelas 2 SMA ini. Bagiku, Aya sudah seperti saudaraku sendiri. Rasanya nyaris tidak mungkin menemukan aku tanpa Aya, dan sebaliknya.
“Gampang,” sahutku santai, membuat sahabatku itu bersorak.
“Kamu memang sahabatku yang paling baik, cantik dan tidak sombong deh, Lin. Makasih banget ya, Lin…” Aya mengerjap-ngerjapkan matanya dengan genit padaku, membuatku tak bisa menahan tawa.
“Dasar tukang rayu,” omelku pura-pura kesal, dan dia hanya tersenyum lebar.
Nah, pada bagian ini, aku benar-benar merasa hidup dalam dunia komik. J
***
Aku mendesah ketika beberapa cewek populer dari kelas lain menempati bangkuku hanya karena secara kebetulan yang tidak menguntungkanku, bangkuku itu terletak di depan bangku Radit. Aku hanya meletakkan tasku sebelum kembali mengendap-ngendap keluar kelas untuk bergabung dengan Aya di kelasnya.
Ini, lagi-lagi, adalah salah satu bagian dari cerita komik yang tidak kusukai, tapi ketika aku sudah berbagi canda dengan Aya, aku tidak peduli. Masa bodoh dengan cerita komik konyol itu. Aku toh menikmati hidupku yang bukan kehidupan komik ini.
Tapi belum genap lima belas menit aku dan Aya menikmati kebersamaan kami yang tenang itu, suara ribut di pintu kelas Aya mengganggu kami. Aku dan Aya menoleh ke pintu kelas itu dan mendapati sosok Radit yang tampak sangat kesal.
Ups, ada yang sedang tidak beruntung pagi ini. Aku hanya bisa bersyukur karena tidak pernah terlibat apapun dengan Radit. Tapi buru-buru kuusir rasa syukurku itu ketika kudengar Radit memanggil namaku.
“Alin!” Radit menghampiriku, masih dengan ekspresi kesal.
Aku benar-benar bingung sekarang. Bingung dan gugup. Percayalah, aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan diriku terlibat masalah dengan Radit, apalagi membuatnya sekesal ini.
“Ya?” aku berusaha bersikap tenang ketika Radit sudah berdiri di depanku.
Alih-alih menjawab, Radit malah menarikku berdiri. Aku terbelalak kaget. Aku baru saja membuka mulut untuk menanyakan kesalahanku ketika Radit bertanya penuh emosi, “Kenapa kamu selalu menghindariku?”
Aku mengernyit. “Aku… kenapa? Menghindari kamu? Memangnya kenapa? Kamu toh duduk di belakangku, mana bisa aku…”
“Tapi itu kenyataannya!” bentak Radit, membuatku ngeri. “Maaf, aku nggak bermaksud buat kamu takut. Aku cuma bingung, Alin. Aku putus asa. Kamu nggak pernah sekalipun memandangku, bahkan meskipun aku duduk tepat di belakangmu selama hampir dua tahun ini. Apa ada yang salah padaku? Kenapa kamu begitu ingin menghindariku?” kali ini Radit tampak putus asa. Ada kegetiran dalam suaranya.
Aku berusaha mencerna kembali kata-katanya dan percayalah, aku benar-benar speechless.
“Aku suka kamu, Alin, sejak kamu duduk di depanku di hari pertama kita di SMA. Aku selalu diam-diam memandangmu, mengagumi semua yang ada padamu. Tapi tak sekalipun kamu memandangku. Aku nggak tahu gimana lagi caranya membuat kamu memperhatikan aku.”
Aku menelan ludah gugup. Aku bisa merasakan semua mata di ruangan itu tertuju padaku. Aku mengerang dalam hati. Ini hanya salah satu cerita yang ada di komik yang biasanya kubaca di waktu senggangku. Tapi ini terjadi dalam hidupku. Hidupku bukan cerita komik. Jadi siapa yang mencoba membohongi siapa?
Aku menatap Radit dan melihat ketulusan di matanya. Aku mendesah berat, “Maaf, Radit. Hidupku bukan cerita komik, yang selalu berakhir bahagia,” kataku. “Tapi aku memang menginginkannya, karena aku juga menyukaimu.”
* The End *
Ally Jane Parker
2912
WOW! :)
BalasHapus