Selamat pagi!
Aku Aiko Yurizawa. Teman-temanku biasa memanggilku Ai. Aku sekarang sudah duduk di bangku SMA. Senangnya. Aku bersekolah di SMA Kochiwa, salah satu SMA favorit di kota tempat tinggalku. Dan yang paling menyenangkan, mulai saat ini, aku berangkat ke sekolah naik kereta. Dan aku yakin, aku akan menemukan momen spesialku di kereta nanti.
“Ai, nanti kalo kamu terlambat, Papa yang anterin kamu, lho…” terdengar teriakan Mama dari ruang makan di bawah.
Ugh! Aku paling tidak suka pada bagian ini. Mama selalu mengancam akan mengantarkanku ke sekolah kalo aku terlambat. Maka aku bergegas menyelesaikan proses merapikan rambutku, menyambar tasku dan berlari turun.
“Ma, nanti aku pulang telat. Ami dan yang lain mau mengajakku minum teh dulu di kafe biasanya.” Kataku sambil menyambar sandwichku.
“Nanti kalo pulang kemaleman, telpon aja ya, biar Papa yang jemput kamu.” Kata Mama.
Aku memutar bola mata. Tapi aku hanya mengiyakan saja. Lalu setelah menghabiskan sarapanku aku mencium pipi Mama dan Papa bergantian dan sedikit tergesa aku berjalan menuju stasiun yang hanya berjarak 5 menit dari rumahku.
Aku sedang menunggu keretaku ketika kulihat seorang anak kecil berjalan seorang diri sambil menangis dan aku heran, kenapa orang-orang di sekitarnya sama sekali tak mempedulikannya? Maka aku bergegas menghampiri anak itu dan aku berjongkok di depannya.
“Adik kecil, kenapa menangis?” Tanyaku lembut.
Anak itu mendongak menatapku dengan mata polosnya. Kasihan sekali. “Papa pergi…” isak anak itu. “Aku ditinggal sendiri…”
Aku memeluknya. “Mungkin Papa lupa. Di sini kan penuh banget. Jadi mungkin Papa kamu juga lagi bingung nyariin kamu.” Aku menenangkannya. “Gini aja. Kakak akan bantu kamu nyari Papa kamu. Kita cari bareng, ya…” aku bahkan saat itu tidak peduli bahwa aku harus segera ke sekolah.
Anak itu berhenti menangis dan mengangguk. Ia kini malah tersenyum. Aku lega. Lalu aku menggandengnya ke loket informasi dan menjelaskan pada wanita penjaga di loket itu tentang anak itu.
“Adik namanya siapa?” aku menanyakan apa yang ingin diketahui pegawai itu.
“Rihito Matsumoto,” jawab anak itu riang.
“Namanya keren.” Pujiku, membuat senyumnya semakin lebar. Lalu kusampaikan namanya pada pegawai loket itu. Aku mendengar namanya diumumkan sampai tiga kali, dan pegawai loket itu meminta kami menunggu.
Aku menjadi tegang ketika kulihat keretaku sudah datang. Tapi aku tak bisa meninggalkan Rihito sendirian. Bagaimana kalo ayahnya tidak menjemputnya. Aku ingat saat aku masih SMP dulu, aku pernah naik kereta di stasiun ini bersama Papa. Dan saat itu aku hampir hilang karena memperhatikan seorang siswa SMA yang dengan nekat menerobos pintu otomatis. Dia benar-benar keren. Dan dia berada di satu gerbong denganku. Aku terus memandanginya dan berharap saat seperti ini tiba, saat di mana aku mungkin bisa bertemu dengannya lagi.
Saat itu aku ketakutan setengah mati karena ayah melepas gandengannya dan entah kenapa, saat aku menatap wajah anak SMA itu, ketakutanku lenyap. Entah kenapa, aku merasa aku bisa merasa tenang saat menatap wajahnya. Lalu kurasakan ayahku kembali menggandeng tanganku dan mataku masih tak bisa lepas dari anak SMA itu.
Tapi hari ini, aku jadi si Anak SMA yang bertanggung jawab atas seorang anak yang tersesat dari ayahnya. Sementara keretaku akan segera berangkat. Lalu aku nyaris melonjak gembira ketika seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan tergopoh menghampiri loket informasi dan begitu melihat Rihito, dia tampak sangat lega. Begitu menghampiri Rihito, orang itu memeluknya. Aku mendengar Rihito memanggilnya Papa.
“Kakak ini yang nemenin Rihito cari Papa,” kata Rihito seraya menunjukku.
“Bilang apa pada Kakak ini?” Tanya Papa Rihito.
“Terima kasih, Kakak…” Rihito tersenyum lebar.
“Sama-sama. Kakak berangkat sekolah dulu, ya… Dah Rihito…” aku segera pamit dan melambaikan tanganku. Aku tersenyum melihat Rihito membalas lambaianku dengan semangat. Tapi senyumku lenyap saat itu juga ketika pintu otomatis mulai menutup. Suara speaker mengingatkan untuk tidak menerobos pintu otimatis, tapi jika aku menunggu kereta selanjutnya, aku akan terlambat. Padahal ini hari pertamaku di SMA.
Aku menunduk dan kulihat tali sepatuku lepas. Ah, kubetulkan di kereta saja. Aku terus berlari menuju pintu yang sudah setengah tertutup dan setengah meter menuju pintu itu, kakiku terbelit tali sepatuku. Aku akan jatuh dan menabrak pintu otomatis.
Aku memejamkan mata, menunggu rasa sakit ketika kepalaku membentur pintu besi itu. Lalu kurasakan seseorang menahan jatuhku dan menarikku masuk. Lalu pintu tertutup di belakangku dan keretapun mulai melaju. Aku nyaris maju karena kehilangan keseimbangan dan kurasakan sang penyelamatku memelukku, membantu mempertahankan keseimbanganku, mencegahku dari peristiwa jatuh untuk kedua kalinya.
Begitu aku merasakan kakiku sudah berpijak dengan mantap, aku melepaskan peganganku dan dia melepaskan pelukannya. Aku menatap penyelamatku dan aku terkesiap.
“Aku baru tau ada pahlawan yang bisa segitu gampangnya jatuh. Lupa mengikat sepatu, rupanya.” Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang ketika mendengar suara dan wajah keren itu. Dia adalah penyelamatku, dia yang menyelamatkanku dari dua kali jatuhku, dia yang menahan pintu otomatis untukku, dia yang menarikku ke dalam kereta dan menyelamatkanku dari keterlambatan yang bisa berakibat buruk bagi hari pertamaku di SMA. Dan dia adalah si Anak SMA yang ku pandangi terus ketika aku naik kereta bersama Papa dulu.
“Uh, iya…” aku berusaha mengurangi kegugupanku karena berdiri begitu dekat dengannya.
“Kalo nggak salah, kamu anak SMP yang tahun lalu ngeliatin aku terus di kereta ini, ya?” tanyanya.
Astaga! Dia masih ingat. Aku mengangguk gugup.
“Dan tadi kamu hampir telat gara-gara nolongin anak kecil tadi. Padahal kamu nggak bisa nerobos pintu otomatis. Payah banget sih, kamu.”
Aku nyengir saja mendengar komentarnya.
“Trus kamu juga murid kelas satu di SMA Kochiwa, ya?”
Aku memandang seragamku sebentar, dan mengangguk.
“Kamu cantik pake seragam itu,” kata anak itu, membuat wajahku memerah. “Aku Ryuya Kazuhiro, Ketua OSIS SMA Kochiwa. Jadi sekarang, kamu adik kelasku, ya?”
Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Ketua OSIS? Tapi kenapa menerobos pintu otomatis?
“Sebenarnya waktu itu aku masih kelas satu dan aku naik kereta untuk pertama kali, yah, bisa dibilang sama seperti keadaanmu saat ini. Tai bedanya, aku nggak sepayah kamu dalam hal nerobos pintu otomatis.” Ryuya nyengir.
Aku tersenyum. Ternyata dia lucu juga.
“Awalnya aku nggak mau naik kereta, tapi setelah liat kamu, aku berharap aku bisa ketemu kamu lagi di kereta ini.” Kata Ryuya, membuat jantungku berdegup semakin kencang. “Intinya, aku udah nunggu kamu naik kereta ini, dan tadi itu berarti keberuntunganku karena aku bisa nolongin kamu dan meluk kamu.”
Aku yang beruntung, ralatku.
“Karena sejak awal aku memerhatikanmu. Dan aku melihat namamu di daftar siswa baru di SMA Kochiwa. Aku jadi bersemangat tiap aku ingat hari ini mungkin aku bertemu denganmu. Mungkin kamu nggak sadar, tapi sejak pertama kali aku liat kamu, aku juga merhatiin kamu, bahkan sampe saat ini. Kayak ada radar yang buat aku terus bisa tau di mana kamu kalo kita ada di satu tempat. Aku terus merhatiin kamu dan aku terus nunggu kamu, sejak tahun lalu.” Ryuya tersenyum.
“Kenapa?” akhirnya aku bisa mengeluarkan satu-satunya pertanyaan yang membingungkan dari otakku.
Ryuya tersenyum lembut dan menyentuh wajahku. Aku menahan napas. “Karena aku suka kamu. Kamu mau jadi pacarku, Aiko Yurizawa?”
Ups… keberuntungan tak selalu datang di pagi yang melelahkan. Cinta tak selalu menghampirimu di tengah peristiwa nyaris ketidak beruntunganmu. Dan kini ketika cinta berdiri di hadapanmu, bersedia mendampingimu, di saat kamu nyaris jatuh dan dia menyelamatkanmu.
“Kukira cuma aku yang mengalami first fall when I saw you…” aku tersenyum.
“Apa?” aku tersenyum melihat wajah bingungnya.
“Kalo gitu itu PR buat kamu…” godaku.
Aku merengut ketika Ryuya mengacak rambutku. Tapi saat melihat tawanya, aku tak bisa menahan senyumku. Ini benar-benar seperti cerita di komik-komik yang pernah ku baca. Begitu mudahnya orang yang kucintai mencintaiku. Aku bahkan tak sadar dia juga memperhatikanku lebih dari aku memperhatikannya. Apalagi ini namanya selain keberuntungan at first fall when I saw You?
* The End *
Ally Jane Parker,
2912
Tidak ada komentar:
Posting Komentar