Minggu, 21 Agustus 2011

Gokilnya Cinta


Aku mengutuk hari saat pertama kali aku mengenalnya. Tidak, tepatnya saat aku bertemu dengannya dan terpaksa mengenalnya. Dia benar-benar cowok paling gila yang pernah kukenal. Hanya saja, aku belum pernah bertemu dengan orang gila yang sejago itu dalam berbicara. Ingatkan aku untuk tidak mendebatnya, itupun jika aku sendiri ingat untuk tidak mencari bahan perdebatan dengannya. (Nah lho!)
Aku masih lima belas tahun dan duduk di kelas 1 SMA kala itu. Di sekolah negeri dan di kelas unggulan, kelas khusus bahasa Inggris. Patut disesalkan karena aku terpaksa bertemu dan berkenalan dengannya di kelas itu. Kelas yang benar-benar menguras emosi dan tenagaku. Ufth…
Di kelas itu aku mempelajari semua mata pelajaran dalam bahasa Inggris. Meski tidak sepenuhnya, tetap saja itu susah. Mendapat nilai pas-pasan dan tidak perlu remidi saja sudah suatu keuntungan yang patut disyukuri dengan tangis dan sujud syukur di kelasku. (Beberapa memang melakukannya, sungguh!)
Sesungguhnya, aku tidak pernah ingin menyebutkan namanya lagi. Tidak, jika aku terancam tidak bisa mempertahankan kewarasanku setelahnya. Jadi, Yang Tak Bernama itu memang sosok yang menyebalkan, tidak hanya bagiku, tapi juga guru-guru dan teman-temanku. Menurutku, dia cukup langka untuk bisa dimuseumkan. (Fosil kali, cink!)
Bulan-bulan pertama dia sudah melancarkan aksinya menggangguku hanya karena aku duduk tepat di depannya. Terima kasih Dewi Fortuna! Dan karena aku termasuk orang yang tidak bisa bertahan dengan kebosanan, yang telah dibuktikan dengan aksi tidurku di tempat duduk paling depan ketika sang guru fisika sedang menerangkan tentang materi daya dan kawan-kawannya, aku selalu menyediakan bekal berupa permen di saku seragamku.
Pada jam pelajaran ketiga hari itu, aku sudah merasa perlu memecahkan kebosanan dan rasa kantukku. Maka aku merogoh kantong samping seragam pramukaku dan terkejut ketika mendapati hanya tinggal bungkus-bungkus permen yang tersisa di sana. Aku melotot ke belakang hanya untuk melihat Yang Tak Bernama itu mengunyah permenku dengan seringaian lebar yang membuat emosiku naik. Aku akan membunuhnya!
Ketika bel istirahat akhirnya berbunyi, aku menyiapkan diriku untuk memakinya. Aku langsung berdiri ketika guruku keluar dari kelas, namun aku kembali tertarik duduk. Aku mengerang kesal ketika menoleh ke belakang dan mendapati tali seragamku terikat di kursi.
“Anjrit!!” makiku pada Yang Tak Bernama, yang tanpa rasa bersalah meninggalkanku di sana dengan memamerkan permen yang tersisa. Aku benar-benar akan membunuhnya!!!
***
Salah satu program kelasku adalah mengadakan outbond di beberapa tempat. Outbond pertama kelasku adalah ke Sarangan. Kami menginap di penginapan milik dinas perairan di sana. Penginapan yang nyaman. Dan Yang Tak Bernama kembali berulah. Entah dengan jalan pikiran yang seperti apa, dengan santainya dia masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh aku dan beberapa teman-teman cewekku lainnya. Kontan mereka menjerit. Aku tak banyak kata, langsung menghampirinya tanpa membalas senyum lebarnya, dan menghamtam wajahnya dengan bantal sebelum mendorongnya dengan kasar dan menutup pintu tepat di depan wajahnya. Anggap saja akal sehatku sedang bekerja dengan baik.
Tapi lagi-lagi ia membuat ulah. Ketika diadakan kuis Matematika pada malam hari, ia melemparkan bunga aster ke arahku, entah dari mana ia mendapatkan bunga itu. Aku melotot padanya dan melemparkan bunga itu kembali padanya. Namun bunga itu kembali dalam jumlah lebih banyak hingga menarik perhatian teman-teman dan guru-guruku yang ikut dalam outbond itu. Aku menggeram marah padanya dan berteriak,
“Lo tuh, kenapa sih? Rese banget!” kesalku.
Alih-alih menjawabku, dia malah menatap teman-temanku dengan wajah sedih dan berkata, “Yah, gue ditolak ama Icha,” ucapnya sambil mengedikkan bahu pasrah.
Kontan saja teman-temanku tertawa. Dan aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi ternyata malam itu tidak sampai di situ saja dia membuatku kesal. Karena ketika waktu istirahat tiba, dan aku sedang menonton televisi bersama teman-teman, dia menghampiriku dan dengan santai menyandarkan kepalanya di pangkuanku.
Wajahku memerah ketika teman-temanku menggoda kami. Lalu aku memutuskan untuk pergi, dan tanpa berkata-kata, aku langsung berdiri, membuat kepala Yang Tak Bernama langsung membentur lantai dengan keras. Aku mendengus ketika ia mengeluh dan mengaduh kesakitan. Sementara yang lain terlalu terkejut untuk berkata-kata. Dia mengumpat dan aku pergi. Malam itu berakhir cukup memuaskan, setidaknya bagiku.
***
Aku tidak terkejut ketika sekembalinya kami dari outbond Yang Tak Bernama itu sudah berstatus ‘jadian’ dengan salah seorang teman sekelasku. Aku hanya mendengus meledek mendengar alasannya. “Abis gue ditolak Icha, sih,” katanya kala itu.
Sudah kukatakan dia sangat menyebalkan. Dia amat sangat menyebalkan. Dan ia kembali berulah ketika beberapa bulan kemudian dia meneleponku dan mulai berkata,
“Gue mau mati aja, nggak ada lagi yang sayang ama gue,” katanya di telepon.
“Apa?” aku benar-benar berpikir bahwa mungkin ada yang salah dengan telingaku.
“Gue putus ama Tia,” urainya. Aku berusaha menahan tawa karena iba dengan keadaannya. “Gue bener-bener sakit hati, Cha. Udah nggak ada yang sayang ama gue di dunia ini, mending gue mati aja,” lanjutnya.
Nah lho! Kalo mau mati kenapa telpon gue, si dudul satu! Ntar kan gue bisa jadi tersangka! Pikirku kala itu.
“Ah, perasaan lo aja kali, lagian mungkin emang udah takdirnya gitu. Mau gimana lagi. Ngapain lo pake mau mati segala. Nggak cuma dia yang sayang lo. Temen-temen, keluarga lo, mereka sayang ama lo,” kataku.
“Elo nggak sayang ama gue,” cetusnya, membuatku memutar bola mata.
“Yah… gimana ya…”
“Tuh kan, elo nggak sayang ama gue, mending gue mati aja deh,” katanya mantap.
“Eh, eh, bentar!” panikku. “Iya deh, iya, gue sayang ama lo deh, tapi jangan macem-macem lo,” kataku akhirnya, dengan amat sangat terpaksa.
“Lo sayang ama gue, Cha?” tanyanya riang.
Hadeuh… pengen gue bejek-bejek aja nih makhluk sebiji, batinku dongkol. “Iya,” ucapku dengan nada biasa, berusaha tidak terdengar terpaksa.
Dan sejak kejadian itulah, entah bagaimana, aku dan dia bersahabat. Bahkan tanpa kusadari, dia lebih mengenalku daripada aku mengenal diriku sendiri. Dia memahami jalan pikiranku yang menurut teman-temanku begitu rumit. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku punya.
Walau begitu, status persahabatan kami itu tidak mencegah kami bertengkar dan saling adu mulut. Berdebat setiap ada kesempatan, dalam berbagai topik dari yang paling penting sampai yang paling tidak penting. Pernah kami berdebat tentang idola sepak bolaku, Francesc ‘Cesc’ Fabregas, pemain muda Spanyol yang bermain untuk Arsenal.
“Fabregas dong, keren…” kataku. “Dia tuh udah keren, hebat, mainnya bagus, top banget deh, pokoknya,” aku menyombongkan.
“Ya udah, kalo gitu Fabregas aja yang main sendirian. Sekalian jaga gawang, sekalian nyiptain gol sendirian,” ucapnya sangat tidak masuk akal.
Aku menatapnya seakan dia sudah gila, “Lo udah gila, ya?”
“Lha tadi lo bilang Fabregas hebat, masa gitu aja nggak bisa,” jawabnya seraya meninggalkanku melongo kesal.
Pernah suatu hari, pada saat pelajaran fisika, seluruh siswa kelasku harus remidi. Guru fisikaku pun bertanya kesal, “Kalo gini nih, yang salah siapa? Gurunya atau muridnya?”
Dan dengan entengnya, Yang Tak Bernama itu menjawab, “Ya gurunya.”
Kontan jawabannya itu disambut dengan sebuah buku melayang di wajahnya. Aku benar-benar tertawa kala itu.
Dan beberapa hari kemudian, dia datang terlambat dan harus menghadapi guru fisika yang sama. Ketika guru fisikaku bertanya, “Kalo terlambat gini, yang salah siapa?”
Lagi-lagi dengan santainya dia menjawab, “Orang tuanya,” sahutnya seraya ngeloyor ke tempat duduknya. Guru fisikaku hanya bisa mengurut dada sementara aku dan teman-temanku hanya menahan tawa melihat tingkahnya.
Ada satu kejadian yang cukup manis yang kukenang dengan dia, meskipun akhirnya aku menghancurkan momen manis itu, tetap saja aku tak bisa melupakan momen itu. Saat itu kami sedang mengikuti debate competition di sebuah Universitas Negeri. Para peserta berkumpul di aula untuk menunggu giliran tampil di ruang debat. Siang itu begitu panas, bahkan meskipun aula itu berada di lantai 3. Selama beberapa saat aku tidak melihat sosok Yang Tak Bernama, namun tak lama kemudian, aku mendapati dia berdiri di depanku dan menyodorkan sebungkus es krim stroberi padaku. Aku menatapnya, menuntut jawaban.
“Nih,” katanya pendek sebagai jawaban seraya menyodorkan es krim itu padaku.
“Buat apa? Nggak usah deh, makasih,” tolakku.
“Ck, lo tuh ya, udah susah-susah dibeliin es krim, udah capek-capek gue turun ke bawah, panas-panasan buat beli es krim…”
“Kan gue nggak nyuruh elo,” selaku. “Lagian gue juga nggak suka stroberi.”
“Tapi elo kan cewek,” kilahnya.
Aku menahan tanganku agar tidak melayang ke wajahnya untuk mendaratkan sebuah pukulan. Emangnya gue nggak keliatan kayak cewek, dasar si blo’on satu, ugh… dumelku dalam hati. “Trus?”
“Lo juga suka warna pink,” tambahnya penuh percaya diri.
“Tapi gue nggak suka es krim stroberi,” balasku tak kalah percaya diri.
“Lo tuh… ugh, ya udah, sini, biar gue buang aja deh es krimnya,” katanya seraya membawa es krim itu pergi.
“Eh, bentar, jangan dibuang,” sergahku. “Sini,” kurebut es krim itu darinya, lalu kuberikan pada teman-temanku yang sedari tadi menonton kami. “Nah, kalo gini kan jadi nggak sia-sia usaha lo,” kataku padanya.
Di belakangku, teman-temanku tertawa geli. Sementara Yang Tak Bernama melotot  kesal padaku sebelum akhirnya mengambil tempat di sebelahku dan mendengus kesal. Aku meliriknya dan reflek bibirku berkata, “Makasih, ya.”
Mendengarku, dia tersenyum seraya menoyor kepalaku. “Dasar tolol,” ucapnya ringan, memancing emosiku, membuat kami kembali berdebat, dan aku rela mempertaruhkan apapun, apapun yang bukan milikku tetapi miliknya, itu bukan untuk terakhir kalinya.
Ada ribuan kejadian yang kualami bersamanya. Dan semuanya hanya bagian dari kisah cintaku yang entah bagaimana bisa ada. Aku hanya menyadari satu hal, bahwa entah kapan atau di mana, di suatu bagian saat aku sedang bersamanya, berdebat tentang hal paling tidak penting seperti sepak bola dan para pemainnya, dan tentang pelajaran-pelajaran sekolah, juga banyak hal lainnya, aku telah jatuh cinta padanya.
Entah pada kegilaannya, pada keanehannya, atau pada pengertiannya akan diriku, tapi yang jelas aku tidak akan pernah melupakan setiap hal yang menjadi alasan aku jatuh cinta padanya, alasan aku mengenalnya. Bukan berarti aku ingin merendahkan nama cinta dengan jatuh cinta pada sosok gila seperti dia, hanya saja aku ingin memperkenalkan cinta pada sesuatu bernama gokil. Yaitu setiap detik yang kulewatkan dengannya. Dengan dia Yang Tak Bernama.
- The End -
Ally Jane Parker
2912

Tidak ada komentar:

Posting Komentar