Minggu, 21 Agustus 2011

Tak Bisa Tanpamu


 
“Apa?! Sejak kapan aku bertunangan dengan gadis yang masih SMA ini?!” Rafi menatap tak percaya pada orang tuanya, orang tua gadis itu dan gadis bernama Fayra itu.
“Sepertinya sejak kita direncanakan untuk ada,” gumam gadis itu.
“Dia masih kecil!” Rafi mendengus pada orang tuanya.
“Aku sudah genap 17 tahun bulan lalu,” protes gadis itu.
“Aku 8 tahun lebih tua darimu,” kata Rafi
“Aku tidak bilang sebaliknya,” balas gadis itu santai.
Rafi mengerang dalam hati.
***
Dua minggu setelahnya…
Rafi melihat Fayra tertawa bersama teman-temannya saat mereka berjalan menuju gerbang. Tanpa sadar, Rafi tersenyum melihat ekspresi bahagia gadis itu. Tapi senyum Rafi lenyap ketika Fayra sudah duduk di sebelahnya di dalam mobilnya. Fayra tidak mengatakan apapun dan hanya melempar pandang keluar, membuat Rafi tak bisa menatap wajah gadis itu. Dan saat itu, Rafi benar-benar berharap ia dapat membaca pikiran Fayra.
Selama dua minggu ini, hidup Rafi berubah dan kejadian seperti ini selalu terulang. Setiap pagi dia mengantar Fayra ke sekolah dan enam jam kemudian dia akan mengantarkan gadis itu pulang. Ia juga selalu menemani Fayra kemanapun dia pergi, dan yang paling mengesalkan Rafi adalah kenyataan bahwa Fayra sering membuatnya tersenyum.
Fayra suka melakukan dan mengatakan hal-hal yang membuat Rafi tersenyum dan tertawa, entah gadis itu sadar atau tidak. Tapi Rafi nyaris tidak pernah melihat gadis itu tersenyum tulus dan tertawa sepenuh hati saat bersamanya. Pikiran itu mengusik Rafi dan memaksanya bertanya,
“Apa perjodohan ini seburuk itu untukmu?”
Fayra mendesah, “Seharusnya itu pertanyaanku untukmu.”
Rafi menoleh untuk menatap Fayra yang balas menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
***
Satu minggu kemudian…
Rafi kembali menunduk untuk menatap jam tangannya. Rasanya setiap detik yang ia lewati semakin lama. 5 menit berlalu ketika akhirnya Rafi melihat sosok Fayra yang berjalan menuju gerbang bersama teman-temannya. Gadis itu tertawa, dan Rafi tak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Rafi?” keterkejutan Fayra membuat Rafi tersenyum. “Bukannya seharusnya kamu ada di Bandung sampai besok lusa?”
“Merindukanku?” pertanyaan usil Rafi itu membuat Fayra tertawa. “Senang melihatmu baik-baik saja.”
“Sepertinya kita memang perlu bicara,” Fayra berkata seraya menggandeng Rafi kembali ke mobil. “Jadi, apa yang sedang terjadi di sini?” tuntut Fayra begitu mereka berada di dalam mobil.
Rafi menatap Fayra tak mengerti. “Apa maksudmu?”
Fayra menghela napas berat lalu berkata, “Kamu pulang lebih cepat pasti karena kamu ingin membicarakan masalah perjodohan kita. Dengar, aku tidak keberatan jika ini sudah saatnya kamu memutuskan perjodohan ini. Mungkin selama seminggu ini kamu sudah cukup berpikir untuk memutuskan bahwa ini tidak akan berhasil. Aku memang berniat untuk menjadi istri yang baik bagimu dan aku akan berusaha. Tapi jika kamu berpikir sebaliknya, mengingat usiaku, sikapku, dan semua yang ada padaku, aku tidak akan memaksamu. Aku mengagumi dedikasimu pada pekerjaanmu dan kesetiaan serta kasih sayangmu pada keluargamu. Dan aku menghargai keputusanmu.”
Rafi tersenyum mendengarnya, hal yang sering ia lakukan saat Fayra bersamanya. “Fayra, mungkin ini akan terdengar gila untukmu, tapi kenyataannya, aku mulai terbiasa denganmu. Aku terbiasa berada di sini bersamamu, menemanimu kemanapun kamu pergi, tersenyum saat berada di dekatmu, dan sepertinya aku tidak akan bisa melakukan semua itu tanpamu. Karena itu, aku bertanya padamu, apakah kamu menerima perjodohan ini dan bersedia menikah denganku, mendampingiku seumur hidupku?”
Sesaat wajah Fayra kosong tanpa ekspresi, lalu perlahan gadis itu tersenyum hangat, “Selamanya, Rafi,” Fayra menjawab, “Selamanya.”
* The End *
Ally Jane Parker,
2912

Tidak ada komentar:

Posting Komentar