Minggu, 21 Agustus 2011

Tanpa Jarak



“Ini apa, Ran?” tanya Mitha seraya mengangkat amplop berwarna biru lembut yang masih tersegel dari meja belajarku.
Aku mendesah lelah ketika mengambil amplop itu darinya. “Tau nih, kakak gue rese banget emang. Hari gini masih pake surat. Gaptek kali,” jawabku sekenanya.
“Kakak lo yang kabur dua tahun lalu itu?” Mitha kembali bertanya, kali ini pertanyaannya terlalu mengusikku.
“Iya. Udah ah, jangan dibahas. Bikin kesel aja,” sahutku ketus.
Mitha hanya memperhatikan ketika aku melempar amplop itu ke dalam laci terbawah meja belajarku, bergabung dengan amplop-amplop lain dan kertas-kertas yang sudah tak terpakai. Ketika aku mendongak dan pandangan mata kami bertemu, aku bisa melihat sorot iba nan memilukan di mata sahabatku itu. Kurasa tak perlu kukatakan bagaimana perasaanku saat ini karena aku tahu, Mitha sudah tahu.
***
2 tahun sebelumnya…
“Kak Aline?” Tak dapat kusembunyikan nada senang dan terkejut dalam suaraku ketika aku melihat kakakku itu mengunjungiku di asrama. Ya, sejak SMP hingga tahun pertamaku di SMA ini, aku memang tinggal di asrama sekolah, hingga aku lulus SMA nanti. Karena itu, ketika kakak semata wayangku mengunjungiku, aku sangat senang.
“Jalan-jalan, yuk. Kakak udah ijin ke Bu Nela,” kata kakakku seraya menggandeng tanganku. Aku bersorak girang ketika balas menggenggam tangannya dengan erat. Namun ketika aku mendongak dan mendapati senyumnya yang tak seperti biasa di wajah lembutnya, benakku sedikit terusik.
Kak Aline tak berbicara lagi sepanjang perjalanan menuju mobilnya, bahkan ia tak bertanya macam-macam padaku seperti biasanya ketika mobil sudah melaju di jalanan. Aku melirik kakakku sebentar sebelum menoleh ke kaca jendela di sebelahku untuk mengamati pantulan kakakku dari sana.
Kak Aline adalah kakak semata wayangku, seorang kakak perempuan yang baik, yang sudah menjadi Ibu bagiku sejak ibu kami meninggal karena kanker 12 belas tahun lalu. Kala itu aku bahkan belum benar-benar mengerti kenapa Ibu tidur dan tak pernah bangun lagi. Kakakku lah yang akhirnya menjelaskan padaku pelan-pelan sembari membaringkan kepalaku di pangkuannya sehari setelah pemakaman Ibu. Masih terukir jelas kata-kata Kak Aline kala itu,
“Ibu pergi ke tempat yang lebih indah dan kelak kita akan menyusulnya. Tapi sebelum kita menyusulnya, kita harus mewujudkan harapannya untuk kita. Kita harus membuat dia bangga.”
Saat itu, aku berdo’a agar Tuhan tidak membiarkan kakakku membuat Ibu bangga sebelum aku melakukannya. Dan sejak saat itu, dialah ibuku. Namun sejak kematian Ibu, Ayah selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Aku tahu dia sangat mencintai Ibu, dan kata kakak, Ayah hanya membutuhkan waktu. Maka itulah yang kami berikan padanya hingga saat ini. Tak pernah sekalipun aku mengusiknya. Aku hanya hidup berdua dengan kakakku selama tahun-tahun itu, tapi aku bahagia. Itu semua karena kakakku. Ya, dialah malaikatku.
Sejak aku di asrama, Kak Aline sibuk bekerja juga di perusahaan Ayah. Aku sempat takut Kak Aline akan seperti Ayah, tapi dia tidak begitu. Di tengah kesibukannya, dia tak pernah membuatku kekurangan kasih sayang. Tiap akhir pekan, dia selalu mengunjungiku. Meski aku tinggal di asrama, aku tak pernah merasa kesepian ataupun merasa tersisihkan dari keluargaku. Karena Kak Aline tak pernah sedetikpun melupakanku ataupun berhenti menyayangiku.
Dia selalu mengingatkanku akan itu dengan kata-katanya, “Apapun yang terjadi, Kakak menyayangimu, dan akan selalu begitu…”
Tapi hari ini aku benar-benar terkejut. Baru dua hari lalu Kak Aline mengunjungiku, dan ini bukan hari libur, jadi kenapa dia mengunjungiku? Aku senang, tapi aku bingung. Memang, kakakku sering memberiku kejutan, seperti ketika pada hari ulang tahunku tahun lalu, dia terbang langsung dari tugas kantornya di Singapura untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Tapi dia belum pernah datang di hari kerja seperti ini kecuali jika aku yang memintanya datang. Dia terlalu sibuk di kantor.
Walau kesibukannya di kantor seringkali membuatnya kewalahan, ia tak pernah absen meneleponku setiap malam sebelum tidur, mendengar cerita-ceritaku yang membosankan. Dia bahkan selalu mengingatkanku agar tidak terlambat makan setiap jam makan datang. Tapi tidak pernah seperti ini, mendadak datang tanpa pemberitahuan, di hari kerjanya yang sibuk.
“Ada apa, Kak?” tanyaku, tak dapat menahan rasa penasaranku lebih lama lagi.
Kakakku tak menjawab. Aku menoleh untuk menatapnya. Betapa terkejutnya aku ketika dia mengangkat tangan ke wajah untuk menghapus air mata. Tapi sebelum aku sempat bertanya, suara dinginnya mengejutkanku, “Nggak pa-pa. Ada beberapa hal yang perlu Kakak omongin sama kamu.”
Sikapnya yang tidak biasa ini benar-benar membingungkanku. Padahal baru akhir pekan kemarin kami berdua menghabiskan liburan yang sangat menyenangkan di rumah tepi pantai keluargaku. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?
Tak lama kemudian, kami berdua sudah duduk di taman kota, di bangku favorit kami dan kakakku masih saja diam. Aku mulai tak sabar. Aku membuka mulut hendak bertanya, tapi tatapan dinginnya menghentikanku.
“Kamu udah bukan anak kecil lagi, Ran. Jadi belajarlah dewasa,” katanya dengan nada dingin. Seketika, aku merasakan dadaku sesak. Kak Aline mengalihkan pandangan dariku dengan cepat dan kini menatap lurus ke depan. “Kakak merasa terbebani olehmu, Ran. Kakak capek ngurusin kamu yang nggak bisa dewasa. Kakak nggak punya kehidupan yang normal karena selalu ngurusin kamu. Kakak pengen punya kehidupan sendiri. Jadi mulai besok Kakak pindah rumah dan ini adalah kunjungan Kakak yang terakhir. Mulai besok, Ayah yang akan mengunjungimu. Itupun jika dia tidak terlalu sibuk. Kakak sudah membicarakan ini dengan Ayah.”
Kalimat demi kalimat itu terdengar bagaikan halilintar dalam kepalaku. Rasa sakit dan sedih yang begitu dalam membuatku kehilangan kata-kata, bahkan tak satupun air mataku bergulir. Pernahkah kau merasa hatimu seakan kehilangan fungsi untuk merasakan apapun selain sakit? Ya, itulah yang kurasakan. Buta oleh rasa sakit, sehingga tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain membeku dan terperangkap dalam rasa itu.
Mengiringi rasa sedih itu, perlahan rasa benci dan marahku tumbuh lebih dalam. Iya, aku marah, benci, pada diriku sendiri karena telah membuat kakakku menderita, pada kakakku karena akan meninggalkanku dan pada ayahku karena telah membuat kami menanggung semua beban ini sendirian. Dan akupun mulai marah pada semuanya. Ya, semuanya…
***
Rasa sakit kembali menusukku ketika aku kembali ke masa sekarang. Huh, bahkan mengingatnya saja begitu menyakitkan. Aku menatap Mitha yang duduk di tepi tempat tidurku dengan laptopnya, dan tersenyum sedih. Hanya Mitha yang kubiarkan ada di dekatku setelah Kak Aline pergi. Kami sudah berteman sejak pertama kali tiba di asrama. Dan dulu, Mitha sering iri padaku karena kedekatanku dengan kakakku. Dia sering mengatakan itu, dan aku merasa sangat beruntung kala itu. Mitha adalah anak tunggal dan orangtuanya sangat sibuk. Tapi sekarang, Mitha lah yang beruntung karena tidak memiliki kakak yang harus meninggalkannya.
Sejak Kak Aline pergi, aku menjauhi semua orang. Aku tak akan membiarkan diriku terlalu dekat dengan seseorang dan membiarkan orang itu menyakitiku ketika ia pergi. Aku sudah lelah dengan begitu banyak kehilangan. Mitha pengecualian. Kami sudah merencanakan masa depan kami untuk selalu bersama.
Seperti yang dikatakan kakakku, Ayah mengunjungiku, terkadang hanya sebulan atau dua bulan sekali, untuk memastikan aku dan nilaiku di sekolah baik-baik saja. Selain itu, tak ada lagi yang memastikan aku makan tepat waktu, selain Mitha, atau meneleponku setiap malam untuk mendengar ceritaku. Selama beberapa bulan sejak kakakku pergi, aku masih sering menangis diam-diam hingga aku tertidur. Tapi sekarang aku sudah kehabisan air mata. Aku lelah menangisi orang yang tidak peduli padaku.
“Lo nggak pernah baca surat-surat itu, ya?” tanya Mitha tiba-tiba.
“Buat apa? Gue nggak mau baca apapun yang tertulis di sana. Dia merasa terbebani dengan adanya gue, jadi lebih baik gue juga menjauhkan diri dari dia. Gue nggak tau buat apa dia repot-repot nulis surat. Kuno banget nggak, sih?” sinisku.
“Bukannya justru itu yang aneh,” kata Mitha. “Dia bilang dia mau pergi, tapi kenapa masih ngirim surat-surat itu? Mungkin di surat itu dia nanyain kabar lo, khawatir ama lo, kangen ama lo. Udah 2 tahun sejak terakhir kali kalian ketemu kan, Ran?”
“Trus kenapa? Nggak akan ada bedanya mau 10 tahun gue nggak ketemu dia. Gue nggak ngerasa pernah punya kakak kayak dia. Seorang kakak harusnya jagain adiknya, bukan malah ninggalin dia,” getirku.
“Pasti ada alasan,” Mitha berkeras.
Aku mendengus. Aku tidak tertarik lagi. Tidak ada alasan apapun bagi seorang kakak untuk meninggalkan adiknya ketika sang adik justru membutuhkannya. Lagipula, aku tidak mau membebani kakakku lagi. Dia tidak ingin aku ada dalam hidupnya lagi. Jadi, kenapa aku mesti peduli?
“Ran, kenapa lo nggak nyoba nyari tau?” desak Mitha.
“Nyari tau apa lagi, Mith? Nyari tau seberapa banyak penyesalan kakak gue karena gue?” sengitku.
Mitha menunduk, kembali menatap laptopnya.
***
“Kakakmu masuk rumah sakit,” hanya itu yang dikatakan Ayah ketika aku bertanya kenapa aku harus meninggalkan asrama malam itu juga.
Aku membeku. Kakak? Kak Aline? Di rumah sakit? Apa yang terjadi padanya? Tuhan, jangan biarkan dia pergi terlalu jauh… Kumohon, Tuhan…
Aku mendengarkan penjelasan Ayah sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dengan tak percaya, sungguh aku berharap ini hanyalah mimpi. Semua itu tidak mungkin… tidak mungkin…
“Kakakmu kena kanker otak sejak dua tahun lalu. Selama dua tahun ini Ayah berusaha keras mencari cara untuk menyembuhkan penyakitnya. Setelah pergi dari rumah, dia langsung terbang ke Amerika, tapi belum genap setahun dia sudah minta kembali ke Indonesia. Dia tidak mau jauh dari kamu. Ketika Ayah melarang, dia mengancam tidak mau melanjutkan terapi jika tidak segera kembali ke Indonesia. Jadi Ayah melakukan apa yang Ayah bisa. Ayah membawa dokter terbaik dari Amerika untuk terus mengawasinya, tapi kakakmu keras kepala. Dia tidak mau tinggal di rumah dan beristirahat. Dia memaksa datang ke kantor, jadi Ayah harus terus mengawasinya. Ayah jadi semakin sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk kamu, Rani. Maafkan, Ayah…” dalamnya penyesalan itu menyentakkanku. “Ayah harus terus mengawasi kakakmu karena dia tidak mau tinggal di rumah. Dia memaksa untuk menyewa rumah tepat di sebelah asramamu. Ayah tidak mengerti kenapa dia tidak mau menjelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ah, Ayah menyesal karena telah bersikap buruk pada kalian. Maafkan Ayah karena tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuk kalian selama ini. Maafkan Ayah, Rani…” suara Ayah bergetar ketika setetes air mata bergulir di pipinya yang semakin tirus.
Aku terlalu terkejut untuk berbicara. Aku hanya berharap Ayah berbohong padaku, bahwa kakakku baik-baik saja, dan tidak ada yang terjadi pada keluarga kami…
Tapi aku tahu ini nyata ketika aku menatap tubuh kakakku terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, dengan selang-selang yang tertanam dalam tubuhnya. Tangisku pecah ketika Ayah menjelaskan bahwa kakakku sedang koma. Mendadak tubuhnya drop pagi ini. Seperti yang terjadi pada Ibu, dia tidur dan tidak bangun lagi. Ayah memelukku, berjanji akan melakukan yang terbaik untuk membuat kakakku sembuh. Kata maaf masih meluncur dari bibirnya, sementara kata maafku untuk kakakku memenuhi benakku, tanpa sanggup kuucap.
***
“Ayah antar kamu ke asrama untuk membereskan pakaianmu. Ayah tahu kamu ingin menemani kakakmu di sini. Ayah sudah mendapat ijin dari Kepala Asramamu. Nanti siang Ayah jemput kamu,” kata Ayah pagi itu.
Aku menatapnya penuh terima kasih, dan dia tersenyum hangat. Kami tak saling bicara sepanjang jalan menuju asramaku. Ketika sampai di gerbang asrama, Ayah mencium keningku seraya berkata, “Nanti kita makan siang bareng, sampai nanti ya.”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Aku membalas lambaian tangan ayahku ketika mobilnya menjauh. Dengan langkah gontai aku berjalan ke asrama. Asrama begitu sibuk setiap pagi, teman-temanku bersiap ke sekolah, tentu saja. Aku terkejut ketika Mitha berada di kamarku.
Mitha tidak mengatakan apapun selain tersenyum dan merentangkan tangan. Aku kembali menangis sembari menghambur dalam pelukannya. Dielusnya kepalaku lembut, “Semuanya bakal baik-baik aja,” katanya menghiburku. Mitha bahkan tidak menanyakan apa yang terjadi ketika melepaskan pelukannya. Pandanganku jatuh ke meja belajarku dan aku melangkah cepat ke sana, menarik laci terbawah hingga terlepas dan menumpahkan semua isinya ke lantai.
“Kak Aline kena kanker, Mith,” isakku sambil berusaha mengumpulkan surat-surat dari kakakku itu. Tuhan… apa yang telah kulakukan? Dia peduli padaku! Tapi aku malah mengabaikannya… Dengan kalut aku berusaha mengumpulkan amplop-amplop biru itu. Aku tertegun menatap amplop yang berwarna biru itu, warna favoritku...
Mitha duduk di depanku dan membantu menyingkirkan kertas-kertas sampah. Air mataku mengalir semakin deras menyadari betapa buruk aku memperlakukan surat-surat ini. Masih dengan terisak keras, aku membuka salah satu amplop itu. Kurasakan kerinduan yang membuncah ketika aku membaca tulisan Kak Aline, tulisan yang rapi dan indah yang selalu kukagumi.
Rani sayang…
Apa kabarmu hari ini? Kakak memberanikan diri untuk terus mengirim surat ini karena tidak ada balasan dari kamu. Itu berarti kamu memang tidak membaca surat Kakak. Terima kasih, ya?
Mungkin suatu hari nanti, ketika kamu membaca surat ini, kamu akan mengerti kenapa Kakak pergi. Tapi perlu kamu tahu, Kakak selalu merindukan kamu. Apa kamu juga merindukan Kakak? Kakak tau kamu kesal. Tapi Kakak ingin kamu tau, apapun yang terjadi, Kakak menyayangimu, dan akan selalu begitu…
Salam rindu penuh cinta,
Kak Aline

Aku menatap surat yang tertanggal 6 bulan lalu itu dan menangis tersedu memeluk surat itu. Lalu dengan hati-hati kuletakkan surat itu di pangkuanku dan membuka amplop berikutnya. Surat-surat itu kurang lebih sama, tak ada penjelasan mengapa dia pergi. Surat itu datang setiap minggu. Ada ratusan surat yang datang darinya dan tak satupun aku membacanya.
Setelah membaca semua surat itu, aku menuju lemari pakaian, dan mengeluarkan kotak karton yang berisi amplop-amplop biru lainnya. Aku masih sesenggukan ketika membuka amplop demi amplop dan mengurutkan surat itu sesuai tanggal. Tanpa kata, Mitha membantuku. Kami bekerja dalam diam. Mitha membantuku memberesi kertas sampah dan mengembalikan laci ke meja belajarku. Mitha juga membantuku menyiapkan pakaianku.
Ketika ayahku menjemputku tengah hari itu, Mitha mengantarkanku keluar. Ia tersenyum dan memelukku. Aku menatapnya penuh terima kasih dan dia mengangguk mengerti. Aku tersenyum, begitulah Mitha, sahabat baikku…
***
Setelah makan siang, mendadak aku ingin pergi ke rumah Kak Aline. Jadi aku meminta Ayah untuk mengantarku ke sana. Rumah itu berada tepat di sebelah asramaku. Ayah menemaniku masuk, menunjukkan kamar Kak Aline padaku. Kamar itu bahkan masih terasa hangat seakan tak pernah ditinggalkan pemiliknya. Tatapanku jatuh pada sebuah buku yang terbuka di meja di dekat jendela dengan banyak foto keluargaku terpajang di sana.
Aku tersenyum sedih ketika duduk di kursi dan menatap lurus melewati jendela, menatap kebun samping rumah itu, pagar tinggi asrama dan halaman asrama yang luas. Dari sini aku bisa melihat pohon tempat favoritku dan Mitha. Dan dari sini, aku juga pasti bisa melihat teman-temanku keluar masuk asrama, bahkan meski hanya untuk ke sekolah. Menyadari betapa dekatnya kakakku selama ini membuat air mata kembali menggenang di pelupuk mataku. Dengan kasar kuhapus air mataku yang sudah siap tumpah, kututup buku itu dan kupeluk erat ketika aku mengangguk pada Ayah agar kami pergi dari sana.
Dan siang itu, kuhabiskan dengan membaca surat demi surat dari Kak Aline di sampingnya yang masih tak sadarkan diri. Entah sudah berapa banyak air mata yang kutumpahkan. Ketika aku sudah membaca surat terakhir, aku menatap kakakku. Dia selalu menyayangiku, peduli padaku, mengkhawatirkanku… Aku hanya terlalu bodoh karena percaya bahwa dia meninggalkanku… Dia tidak pernah pergi, tidak pernah…
Setelah menyimpan surat-surat itu, aku mengambil buku yang kubawa dari kamarnya tadi. Ini buku agenda harian. Tapi betapa terkejutnya aku ketika membaca halaman pertama buku itu…
Untuk adikku, Rani…
Mudah-mudahan tulisan-tulisan Kakak bisa selalu mengingatkanmu, bahwa apapun yang terjadi, Kakak menyayangimu, dan akan selalu begitu…
Kuhapus air mataku ketika aku membuka halaman berikutnya.
Aku tau aku tak akan pernah bisa jauh darinya. Bodoh sekali aku berpikir aku bisa membiarkan dia sendirian di sini. Aku menyayanginya. Dan itulah alasanku berada di sini saat ini, tersenyum ketika menulis kalimat ini sambil memandang Rani duduk di bawah pohon itu.
Selama ini Kak Aline begitu dekat… dan aku tak tahu itu.
Aku membaca tulisan Kak Aline, ceritanya tentang diriku, ya, tentang aku. Hidupnya hanyalah tentang aku, bahkan ketika aku begitu marah dan tak peduli padanya… Aku tak dapat menahan air mataku ketika membalik halaman demi halaman. Hingga aku sampai di halaman terakhir.
Aku sangat merindukannya. Aku rindu mendengar suaranya. Apakah salah jika aku melakukan ini padanya? Aku menyayanginya dan aku tidak ingin menyakitinya. Aku hanya tidak ingin dia merasakan kehilangan lagi. Setidaknya dia akan terbiasa dengan ketidakhadiranku saat aku harus pergi terlalu jauh darinya nanti. Aku tau dia akan marah dan membenciku, tapi setidaknya dia baik-baik saja dan itu yang terpenting bagiku.
Aku harap, ketika dia membaca ini, dia sudah memaafkanku. Aku melakukan semua ini untuknya. Aku bahkan tak bisa memeluknya karena aku tidak ingin menyakitinya. Aku menyayanginya, aku sangat menyayanginya. Apapun yang terjadi, dia adalah adik yang ingin selalu kulindungi, yang selalu kusayangi, dan akan begitu selamanya…
Tuhan, terima kasih karena Kau telah memberiku kesempatan untuk menatapnya sebelum Kau memanggilku. Terima kasih karena telah Kau beri aku kesempatan untuk menatapnya hingga detik-detik terakhir… Hanya satu pintaku, Tuhan… jaga dia ketika aku pergi, karena aku sangat menyayanginya. Dan akan begitu selamanya…
Aku kembali menangis tersedu. Dengan air mata yang tak bisa kuhentikan, aku memeluk Kak Aline. Di tengah isak tangisku, aku berkata, “Rani sayang Kakak… Rani selalu sayang Kakak. Rani marah karena selama ini udah ngerepotin Kak Aline. Maafin Rani, Kak… Rani sayang Kak Aline, Rani udah maafin Kakak, kok… Kakak jangan pergi lagi, ya? Rani sayang Kakak. Rani janji, Rani nggak akan ngerepotin Kakak lagi, Rani udah gede, Kak. Kakak jangan pergi lagi… Rani sayang Kakak…”
Kurasakan tangannya balas memelukku, membuatku terpaku selama beberapa detik, hingga kemudian kurasakan tangannya jatuh kembali dan denging panjang dari monitor membuatku mempererat pelukanku. Air mataku mengalir semakin deras.
Tuhan, tolong jaga kakakku. Tolong sampaikan padanya, aku sangat, sangat menyayanginya. Dan akan begitu selamanya…
***
Aku memandang langit malam dan tersenyum kepada dua bintang paling terang di sana. aku percaya, Ibu dan Kak Aline pasti bahagia di sana. Dan aku, tentu saja aku di sini bahagia. Ayah dan aku kini hanya berdua dan kami saling menjaga, saling memiliki. Aku akan membuat kalian, orang-orang yang kusayangi, bangga padaku. Aku janji…
“Rani?” suara Ayah dari pintu belakang membuatku menoleh. “Barusan Arvi telpon Ayah. Proyek di Singapura sudah selesai dan hasilnya sempurna. Kita bisa terbang ke sana besok.”
Aku bergegas menghampiri ayahku, “Serius, Yah?” pertanyaanku itu hanya dijawab anggukan senang ayahku. Aku bersorak dan memeluk ayahku. Proyek di Singapura itu dulu diurus Kak Aline, dan sempat terhenti cukup lama, hingga beberapa bulan lalu. Proyek pembangunan Resort baru perusahaan yang begitu diidam-idamkan kakakku itu. Masih kuingat dulu dia menceritakan proyek itu dengan penuh semangat.
“Kamu telpon Mitha. Besok kita berangkat dengan penerbangan pertama. Ayah urus tiketnya dulu,” kata ayahku ketika aku melepaskan pelukan.
Aku mengangguk penuh semangat, mengecup pipi ayahku sekilas sebelum berlari ke kamar untuk mengabari sahabatku tentang kabar gembira ini. Aku baru selesai menelpon Mitha ketika ponselku kembali berdering.
“Aku merindukanmu,” adalah kalimat pertama yang kudengar ketika aku mengangkat telponnya.
Aku tertawa. “Aku juga, Arvi, aku juga. Terima kasih…” kataku tulus pada tunanganku itu.
“Untuk?”
“Untuk mimpi Kak Aline yang kamu sempurnakan,” ucapku dengan senyum. Aku berjalan ke beranda dan menatap langit, dua bintang yang kuamati di bawah tadi seakan tersenyum padaku.
“Dan terima kasih, untuk cinta dan kepercayaanmu yang telah menyempurnakan hidupku, Rani. Aku mencintaimu,” kata-katanya membuatku tersenyum.
“Aku juga mencintaimu,” balasku penuh cinta.
Sejak kepergian Kak Aline 5 tahun lalu, aku menyadari satu hal, dia tidak pergi sejauh itu. dia tidak pergi kemanapun. Kakak dan ibuku berada di hatiku, tanpa jarak, dan akan begitu selamanya. Bukankah mereka yang pergi tak pernah benar-benar pergi? Dan aku bisa merasakan pelukan hangat kakakku saat itu. Tanpa jarak…
* The End *
Ally Jane Parker
2912

Dia Milikku



Allan melihat gadis itu di kelasnya, melompat-lompat dan tertawa keras bersama teman-temannya. “Lagi-lagi melakukan tindakan konyol,” gumam Allan kesal seraya menghampiri Licia dan menariknya pergi dari sana.
“Kamu tuh kenapa, sih?!” protes Licia.
“Seharusnya kamu sudah mempelajari buku tata karma yang diberikan padamu sejak sebulan yang lalu itu,” Allan melepaskan Licia dan menatapnya galak.
“Memang, tapi buku itu hanya menyebutkan hal-hal konyol yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang bangsawan. Buku itu mengatakan seorang Lady tidak boleh berlari dan memperlihatkan mata kakinya. Lalu bagaimana aku bisa menyelamatkan diri jika seseorang mengejarku untuk membunuhku?” balasnya.
“Sialan, Licia! Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi?” Allan semakin kesal.
“Dilarang mengumpat, tertulis dalam buku itu. Lagipula, kamu tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi padaku. Menjadi bangsawan bukan berarti kita aman.”
“Jika menurutmu hanya kamu yang merasa dirugikan dalam perjodohan ini, kamu salah. Aku juga tidak menginginkan perjodohan ini. Aku tidak pernah menginginkannya.” Kata Allan dingin.
“Kenapa kamu tidak meminta gadis yang kamu cintai saja untuk menikah denganmu?” tantang Licia.
“Karena aku tidak ingin gadis yang aku cintai terikat dan terkurung dalam kehidupan konyol para bangsawan ini.” Balas Allan cepat. Kemudian Allan menyadari apa yang baru saja dikatakannya itu menyinggung Licia. Gadis itu menatap Allan dingin sebelum pergi.
***
Setelah kejadian itu, Licia berubah. Jika ada yang menyadarinya dan merasa sangat bersalah karenanya, Allan lah orangnya. Allan tidak terkejut saat Zake, salah seorang sahabat Licia mendatanginya di kelasnya.
“Seharusnya aku membunuhmu karena telah menyakiti Licia seperti itu,” katanya.
“Kenapa harus kamu yang semarah ini, Zake?” ledek Allan. “Dia tunanganku.”
“Dia dipaksa untuk menikah denganmu! Kalian dijodohkan!” bentak Zake marah.
“Jangan katakan kamu akan membelanya hanya karena…”
“Aku mencintainya, Allan.” Pernyataan Zake menyulut emosi Allan.
“Dia tunanganku!” Allan memperingatkan.
“Dia tidak bahagia bersamamu. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan hatinya.”
Allan menyerang Zake dengan tinjunya. Licia miliknya. Mungkin saat ini Licia tidak bahagia bersamanya, tapi Allan akan membayarnya setelah mereka lulus sekolah dan menikah nanti. Allan akan menjaganya dari para bangsawan yang berniat menjatuhkannya, atau siapapun yang berniat menyakitinya.
“Astaga, Allan! Zake!” Allan mendengar pekik terkejut Licia, kemudian menyusul tarikan gadis itu di lengannya, membuatnya terpaksa berhenti jika tidak ingin Licia terluka. “Sepertinya bukan ini yang kubaca di buku sialan itu.” Kata Licia tajam pada Allan.
“Sepertinya penulis buku sialan itu lupa mencantumkannya,” gerutu Allan. Licia menatapnya, menuntut jawaban. “Dia mencintaimu dan mengatakan akan merebutmu dariku.” Dengan enggan Allan menjelaskan.
Licia melotot galak pada Zake sebelum kembali menatap Allan. “Dia sahabatku, Allan. Tidak seharusnya kamu mendengarkan bualannya itu. Aku sudah mengikat janji padamu dan aku tidak akan pernah mengingkarinya. Aku tidak akan lari dari tanggung jawabku.” Kata Licia tegas.
“Aku minta maaf jika perjodohan ini menyiksamu dan karena aku telah menyakitimu.” Sesal Allan.
“Aku sudah banyak belajar untuk mengatasi keduanya,” sahut Licia.
“Tapi aku tidak bisa melepaskanmu pada Zake atau pria manapun, karena aku tidak bisa membayangkan hidupku selanjutnya jika bukan bersamamu, Licia.” Allan mengakui apa yang telah disadarinya.
“Aku juga tidak bisa memandang pria lain selain kamu, Allan.” Licia tersenyum lembut.
“Dan itu benar-benar menguntungkanmu, Allan. Berterima kasihlah pada perjodohan ini,” cetus Zake. “Tapi jika aku melihatnya tidak bahagia sedikit saja…”
“Kamu boleh menendangku, memukulku, atau berusaha membunuhku sekalipun, tapi aku tak akan pernah melepaskannya. Aku akan membuatnya bahagia.” Allan berkeras.
Licia tertawa. “Aku sudah bahagia, Allan sayang. Sepertinya aku mulai menyukai perjodohan ini.”
Allan menatap Licia dan tersenyum lebar. “Aku juga, Licia,” katanya bahagia.
Zake memutar bola mata ketika meninggalkan mereka berdua.

* The End *
Ally Jane Parker,
2912

First Fall When I Saw You



Selamat pagi!
Aku Aiko Yurizawa. Teman-temanku biasa memanggilku Ai. Aku sekarang sudah duduk di bangku SMA. Senangnya. Aku bersekolah di SMA Kochiwa, salah satu SMA favorit di kota tempat tinggalku. Dan yang paling menyenangkan, mulai saat ini, aku berangkat ke sekolah naik kereta. Dan aku yakin, aku akan menemukan momen spesialku di kereta nanti.
“Ai, nanti kalo kamu terlambat, Papa yang anterin kamu, lho…” terdengar teriakan Mama dari ruang makan di bawah.
Ugh! Aku paling tidak suka pada bagian ini. Mama selalu mengancam akan mengantarkanku ke sekolah kalo aku terlambat. Maka aku bergegas menyelesaikan proses merapikan rambutku, menyambar tasku  dan berlari turun.
“Ma, nanti aku pulang telat. Ami dan yang lain mau mengajakku minum teh dulu di kafe biasanya.” Kataku sambil menyambar sandwichku.
“Nanti kalo pulang kemaleman, telpon aja ya, biar Papa yang jemput kamu.” Kata Mama.
Aku memutar bola mata. Tapi aku hanya mengiyakan saja. Lalu setelah menghabiskan sarapanku aku mencium pipi Mama dan Papa bergantian dan sedikit tergesa aku berjalan menuju stasiun yang hanya berjarak 5 menit dari rumahku.
Aku sedang menunggu keretaku ketika kulihat seorang anak kecil berjalan seorang diri sambil menangis dan aku heran, kenapa orang-orang di sekitarnya sama sekali tak mempedulikannya? Maka aku bergegas menghampiri anak itu dan aku berjongkok di depannya.
“Adik kecil, kenapa menangis?” Tanyaku lembut.
Anak itu mendongak menatapku dengan mata polosnya. Kasihan sekali. “Papa pergi…” isak anak itu. “Aku ditinggal sendiri…”
Aku memeluknya. “Mungkin Papa lupa. Di sini kan penuh banget. Jadi mungkin Papa kamu juga lagi bingung nyariin kamu.” Aku menenangkannya. “Gini aja. Kakak akan bantu kamu nyari Papa kamu. Kita cari bareng, ya…” aku bahkan saat itu tidak peduli bahwa aku harus segera ke sekolah.
Anak itu berhenti menangis dan mengangguk. Ia kini malah tersenyum. Aku lega. Lalu aku menggandengnya ke loket informasi dan menjelaskan pada wanita penjaga di loket itu tentang anak itu.
“Adik namanya siapa?” aku menanyakan apa yang ingin diketahui pegawai itu.
“Rihito Matsumoto,” jawab anak itu riang.
“Namanya keren.” Pujiku, membuat senyumnya semakin lebar. Lalu  kusampaikan namanya pada pegawai loket itu. Aku mendengar namanya diumumkan sampai tiga kali, dan pegawai loket itu meminta kami menunggu.
Aku menjadi tegang ketika kulihat keretaku sudah datang. Tapi aku tak bisa meninggalkan Rihito sendirian. Bagaimana kalo ayahnya tidak menjemputnya. Aku ingat saat aku masih SMP dulu, aku pernah naik kereta di stasiun ini bersama Papa. Dan saat itu aku hampir hilang karena memperhatikan seorang siswa SMA yang dengan nekat menerobos pintu otomatis. Dia benar-benar keren. Dan dia berada di satu gerbong denganku. Aku terus memandanginya dan berharap saat seperti ini tiba, saat di mana aku mungkin bisa bertemu dengannya lagi.
Saat itu aku ketakutan setengah mati karena ayah melepas gandengannya dan entah kenapa, saat aku menatap wajah anak SMA itu, ketakutanku lenyap. Entah kenapa, aku merasa aku bisa merasa tenang saat menatap wajahnya. Lalu kurasakan ayahku kembali menggandeng  tanganku dan mataku  masih tak bisa lepas dari anak SMA itu.
Tapi hari ini, aku jadi si Anak SMA yang bertanggung jawab atas seorang anak yang tersesat dari ayahnya. Sementara keretaku akan segera berangkat. Lalu aku nyaris melonjak gembira ketika seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan tergopoh menghampiri loket informasi dan begitu melihat Rihito, dia tampak sangat lega. Begitu menghampiri Rihito, orang itu memeluknya. Aku mendengar Rihito memanggilnya Papa.
“Kakak ini  yang nemenin Rihito cari Papa,” kata Rihito seraya menunjukku.
“Bilang apa pada Kakak ini?” Tanya Papa Rihito.
“Terima kasih, Kakak…” Rihito tersenyum lebar.
“Sama-sama. Kakak berangkat sekolah dulu, ya… Dah Rihito…” aku segera pamit dan melambaikan  tanganku. Aku tersenyum melihat Rihito membalas lambaianku dengan semangat. Tapi senyumku lenyap saat itu juga ketika pintu otomatis mulai menutup. Suara speaker mengingatkan untuk tidak menerobos pintu otimatis, tapi jika aku menunggu kereta selanjutnya, aku akan terlambat. Padahal ini hari pertamaku di SMA.
Aku menunduk dan kulihat tali sepatuku lepas. Ah, kubetulkan di kereta saja. Aku terus berlari menuju pintu yang sudah setengah tertutup dan setengah meter menuju pintu itu, kakiku  terbelit tali sepatuku. Aku akan jatuh dan menabrak pintu otomatis.
Aku memejamkan mata, menunggu rasa sakit ketika kepalaku membentur pintu besi itu.  Lalu kurasakan seseorang menahan jatuhku dan menarikku masuk. Lalu pintu tertutup di belakangku dan keretapun mulai melaju. Aku nyaris maju karena kehilangan keseimbangan dan kurasakan sang penyelamatku memelukku, membantu mempertahankan keseimbanganku, mencegahku dari peristiwa jatuh untuk kedua kalinya.
Begitu aku merasakan kakiku sudah berpijak dengan mantap, aku melepaskan peganganku dan dia melepaskan pelukannya. Aku menatap penyelamatku dan aku terkesiap.
“Aku baru tau ada pahlawan yang bisa segitu gampangnya jatuh. Lupa mengikat sepatu, rupanya.” Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang ketika mendengar suara dan wajah keren itu. Dia adalah penyelamatku, dia yang menyelamatkanku dari dua kali jatuhku, dia yang menahan pintu otomatis untukku, dia yang menarikku ke dalam kereta dan menyelamatkanku dari keterlambatan yang bisa berakibat buruk bagi hari pertamaku di SMA. Dan dia adalah si Anak SMA yang ku pandangi terus ketika aku naik kereta bersama Papa dulu.
“Uh, iya…” aku berusaha mengurangi kegugupanku karena berdiri begitu dekat dengannya.
“Kalo nggak salah, kamu anak SMP yang tahun lalu ngeliatin aku terus di kereta ini, ya?” tanyanya.
Astaga! Dia masih ingat. Aku mengangguk  gugup.
“Dan tadi kamu hampir telat gara-gara nolongin anak kecil tadi. Padahal kamu nggak bisa nerobos pintu otomatis. Payah banget sih, kamu.”
Aku nyengir saja mendengar komentarnya.
“Trus kamu juga murid kelas satu di SMA Kochiwa, ya?”
Aku memandang seragamku sebentar, dan mengangguk.
“Kamu cantik pake seragam itu,” kata anak itu, membuat wajahku memerah. “Aku Ryuya Kazuhiro, Ketua OSIS SMA Kochiwa. Jadi sekarang, kamu adik kelasku, ya?”
Aku benar-benar  terkejut mendengarnya. Ketua OSIS? Tapi kenapa menerobos pintu otomatis?
“Sebenarnya waktu itu aku masih kelas satu dan aku naik kereta untuk pertama kali, yah, bisa dibilang sama seperti keadaanmu saat ini. Tai bedanya, aku nggak sepayah kamu dalam hal nerobos pintu otomatis.” Ryuya nyengir.
Aku tersenyum. Ternyata dia lucu juga.
“Awalnya aku nggak mau naik kereta, tapi setelah liat kamu, aku berharap aku bisa ketemu kamu lagi di kereta ini.” Kata Ryuya, membuat jantungku berdegup semakin kencang. “Intinya, aku udah nunggu kamu naik kereta ini, dan tadi itu berarti keberuntunganku karena aku bisa nolongin kamu dan meluk kamu.”
Aku yang beruntung, ralatku.
“Karena sejak awal aku memerhatikanmu. Dan aku melihat namamu di daftar siswa baru di SMA Kochiwa. Aku jadi bersemangat tiap aku ingat hari ini mungkin aku bertemu denganmu. Mungkin kamu nggak sadar, tapi sejak pertama kali aku liat kamu, aku juga merhatiin kamu, bahkan sampe saat ini. Kayak ada radar yang buat aku terus bisa tau di mana kamu kalo kita ada di satu tempat. Aku terus merhatiin kamu dan aku terus nunggu kamu, sejak tahun lalu.” Ryuya tersenyum.
“Kenapa?” akhirnya aku bisa mengeluarkan satu-satunya pertanyaan yang membingungkan dari otakku.
Ryuya tersenyum lembut dan menyentuh wajahku. Aku menahan napas. “Karena aku suka kamu. Kamu mau jadi pacarku, Aiko Yurizawa?”
Ups… keberuntungan tak selalu datang di pagi yang melelahkan. Cinta tak selalu menghampirimu di tengah peristiwa nyaris ketidak beruntunganmu. Dan kini ketika cinta berdiri di hadapanmu, bersedia mendampingimu, di saat kamu nyaris jatuh dan dia menyelamatkanmu.
“Kukira cuma aku yang mengalami first fall when I saw you…” aku tersenyum.
“Apa?” aku tersenyum melihat wajah bingungnya.
“Kalo gitu itu PR buat kamu…” godaku.
Aku merengut ketika Ryuya mengacak rambutku. Tapi saat melihat tawanya, aku tak bisa menahan senyumku. Ini benar-benar seperti cerita di komik-komik yang pernah ku baca. Begitu mudahnya orang yang kucintai mencintaiku. Aku bahkan tak sadar dia juga memperhatikanku lebih dari aku memperhatikannya. Apalagi ini namanya selain keberuntungan at first fall when I saw You?
* The End *
Ally Jane Parker,
2912