Allan melihat gadis itu di kelasnya, melompat-lompat dan tertawa keras bersama teman-temannya. “Lagi-lagi melakukan tindakan konyol,” gumam Allan kesal seraya menghampiri Licia dan menariknya pergi dari sana.
“Kamu tuh kenapa, sih?!” protes Licia.
“Seharusnya kamu sudah mempelajari buku tata karma yang diberikan padamu sejak sebulan yang lalu itu,” Allan melepaskan Licia dan menatapnya galak.
“Memang, tapi buku itu hanya menyebutkan hal-hal konyol yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang bangsawan. Buku itu mengatakan seorang Lady tidak boleh berlari dan memperlihatkan mata kakinya. Lalu bagaimana aku bisa menyelamatkan diri jika seseorang mengejarku untuk membunuhku?” balasnya.
“Sialan, Licia! Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi?” Allan semakin kesal.
“Dilarang mengumpat, tertulis dalam buku itu. Lagipula, kamu tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi padaku. Menjadi bangsawan bukan berarti kita aman.”
“Jika menurutmu hanya kamu yang merasa dirugikan dalam perjodohan ini, kamu salah. Aku juga tidak menginginkan perjodohan ini. Aku tidak pernah menginginkannya.” Kata Allan dingin.
“Kenapa kamu tidak meminta gadis yang kamu cintai saja untuk menikah denganmu?” tantang Licia.
“Karena aku tidak ingin gadis yang aku cintai terikat dan terkurung dalam kehidupan konyol para bangsawan ini.” Balas Allan cepat. Kemudian Allan menyadari apa yang baru saja dikatakannya itu menyinggung Licia. Gadis itu menatap Allan dingin sebelum pergi.
***
Setelah kejadian itu, Licia berubah. Jika ada yang menyadarinya dan merasa sangat bersalah karenanya, Allan lah orangnya. Allan tidak terkejut saat Zake, salah seorang sahabat Licia mendatanginya di kelasnya.
“Seharusnya aku membunuhmu karena telah menyakiti Licia seperti itu,” katanya.
“Kenapa harus kamu yang semarah ini, Zake?” ledek Allan. “Dia tunanganku.”
“Dia dipaksa untuk menikah denganmu! Kalian dijodohkan!” bentak Zake marah.
“Jangan katakan kamu akan membelanya hanya karena…”
“Aku mencintainya, Allan.” Pernyataan Zake menyulut emosi Allan.
“Dia tunanganku!” Allan memperingatkan.
“Dia tidak bahagia bersamamu. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan hatinya.”
Allan menyerang Zake dengan tinjunya. Licia miliknya. Mungkin saat ini Licia tidak bahagia bersamanya, tapi Allan akan membayarnya setelah mereka lulus sekolah dan menikah nanti. Allan akan menjaganya dari para bangsawan yang berniat menjatuhkannya, atau siapapun yang berniat menyakitinya.
“Astaga, Allan! Zake!” Allan mendengar pekik terkejut Licia, kemudian menyusul tarikan gadis itu di lengannya, membuatnya terpaksa berhenti jika tidak ingin Licia terluka. “Sepertinya bukan ini yang kubaca di buku sialan itu.” Kata Licia tajam pada Allan.
“Sepertinya penulis buku sialan itu lupa mencantumkannya,” gerutu Allan. Licia menatapnya, menuntut jawaban. “Dia mencintaimu dan mengatakan akan merebutmu dariku.” Dengan enggan Allan menjelaskan.
Licia melotot galak pada Zake sebelum kembali menatap Allan. “Dia sahabatku, Allan. Tidak seharusnya kamu mendengarkan bualannya itu. Aku sudah mengikat janji padamu dan aku tidak akan pernah mengingkarinya. Aku tidak akan lari dari tanggung jawabku.” Kata Licia tegas.
“Aku minta maaf jika perjodohan ini menyiksamu dan karena aku telah menyakitimu.” Sesal Allan.
“Aku sudah banyak belajar untuk mengatasi keduanya,” sahut Licia.
“Tapi aku tidak bisa melepaskanmu pada Zake atau pria manapun, karena aku tidak bisa membayangkan hidupku selanjutnya jika bukan bersamamu, Licia.” Allan mengakui apa yang telah disadarinya.
“Aku juga tidak bisa memandang pria lain selain kamu, Allan.” Licia tersenyum lembut.
“Dan itu benar-benar menguntungkanmu, Allan. Berterima kasihlah pada perjodohan ini,” cetus Zake. “Tapi jika aku melihatnya tidak bahagia sedikit saja…”
“Kamu boleh menendangku, memukulku, atau berusaha membunuhku sekalipun, tapi aku tak akan pernah melepaskannya. Aku akan membuatnya bahagia.” Allan berkeras.
Licia tertawa. “Aku sudah bahagia, Allan sayang. Sepertinya aku mulai menyukai perjodohan ini.”
Allan menatap Licia dan tersenyum lebar. “Aku juga, Licia,” katanya bahagia.
Zake memutar bola mata ketika meninggalkan mereka berdua.
* The End *
Ally Jane Parker,
2912
Tidak ada komentar:
Posting Komentar